Senin, 03 Januari 2011

Racun Diduga dari Ketela

SELASA,04 JANUARI 2011


JEPARA (SINDO) – Korban tewas akibat keracunan tiwul yang terbuat dari ampas ketela di Desa Jebol Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara terus bertambah.
Jika sebelumnya, korban tercatat empat orang, kemarin,dua orang menyusul tewas. Dua korban terakhir adalah Faridatus Sholihah, 15, dan Saidatul Husniah, 8.Faridatus Sholikhah yang semula dirawat di ruang Cempaka tewas pada Minggu (2/1) pukul 19.35 WIB. Sedangkan Saidatul Khusniah yang dirawat di ruang Anyelir RSUD Kartini meninggal dunia dini hari kemarin pukul 03.00 WIB. Sebelumnya, empat anak dari pasangan Jamhamid,dan Siti Junaiyah, masing-masing Lutfiana, 24, yang merupakan anak pertama, disusul Abdul Amin, 3,Ahmad Kusriyanto, 5, dan Muhammad Hisyam Ali,13 tewas secara beruntun sejak Sabtu (1/1) hingga Minggu (2/1).
Sedang kakek Lutfiana, Fihri, 74 yang juga ikut memakan tiwul tersebut, kondisinya masih kritis dan mendapat perawatan intensif di RSUD Kartini Jepara. Praktis, kini hanya satu dari tujuh anak pasangan Jamhamid dan Siti Sunayah yang tidak ikut meninggal dunia, yakni Imarotul Hikmah,20.Anak kedua Jamhamid ini memang tidak ikut menjadi korban karena tidak ikut mengonsumsi tiwul maut.Imarotul Hikmah sudah berkeluarga dan tinggal dengan suaminya di Desa Tunggul Kecamatan Nalumsari,Kabupaten Jepara. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara menduga racun yang masuk dalam tubuh korban berasal dari ketela yang dibuat untuk bahan tiwul yang kemudian dimakan korban. Kepala DKK Jepara Agus Salim Riyadi mengatakan, dalam buah ketela itu mengandung asam sianida (HCN).Zat yang terkandung dalam ketela ini bersifat racun bagi manusia.
Menurutnya, HCN sebenarnya mudah menguap jika dipanaskan di bawah sinar matahari langsung. Namun jika pemanasannya tidak sempurna dimungkinkan zat ini masih terkandung di dalamnya.“Ini akan membahayakan bagi yang memakannya jika pengeringannya tidak sempurna dan langsung dimasak,”kata Agus kemarin. Racun tak hanya terkandung dalam buah ketela, bahkan daunnya pun jika dimakan hewan ternak tanpa melalui pengeringan,biasanya akan menyebabkan kematian pada ternak tersebut. Lebih lanjut Agus menambahkan, racun yang bisa terjadi pada tiwul itu selain karena berasal dari zat HCN juga dimungkinkan dari proses fermentasi yang tidak sempurna. Dalam proses fermentasi atau peragian perlu memperhatikan kebersihan agar fermentasi bisa berhasil dengan baik.
Meski begitu, Agus tidak menyalahkan masyarakat yang mengolah bahan makanan dari bahan ketela. Sebab hal itu juga sejalan dengan program diversifikasi makanan dari bahan beras ke bahan lainnya. “Kalau cara pengolahannya benar, bahaya dapat dihindarkan,” jelasnya. Sementara itu,Siti Sunayah mengatakan keluarganya sebenarnya sudah sering memakan makanan yang diolah dari bahan ketela. Selama ini,memang tidak ada masalah yang muncul dari makanan selingan tersebut. Namun, Siti Sunayah mengakui bahwa intensitas keluarganya memakan makanan dari olahan ketela tersebut meningkat dalam dua pekan terakhir. Maklum,akhirakhir ini kondisi keuangan keluarganya memang tidak menentu.Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, cabe dan lainnya. Biasanya, kata Sunayah ia mengolah “makan selingan” tersebut dengan cara bahan ketela dicampur dengan serbuk tepung tapioka, lalu diberi garam,gula merah dan diberi sedikit pemanis buatan.
Setelah itu, adonan dituang dalam tungku dan dipanaskan selama kurang lebih satu jam. “Biasanya, dalam kurun waktu tersebut,sudah kering dan siap dimakan.Sebelumnya pernah juga belum benar-benar kering namun saat dimakan juga tidak ada masalah,”jelasnya. Sunayah mengaku hanya memakan sedikit tiwul buatannya. Satu baskom kecil tiwul buatannya memang dihabiskan oleh enam anaknya. Bupati Jepara Hendro Martojo mengatakan kasus keracunan makanan hingga menewaskan korban jiwa baru terjadi di satu keluarga, belum tersebar di banyak warga dalam satu daerah.Menurut Hendro, kejadian tersebut penyakit menular yang mewabah. “Mungkin akibat dari kekeliruan dalam memilih dan mengolah bahan makanan dari ketela,”kata Hendro.
Sementara itu,Kapolres Jepara AKPB Ruslan Ependi didampingi Pjs Kasatreskrim Iptu Rismanto mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil resmi dari autopsi atas jenazah korban yang dilakukan oleh Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng.Pemeriksaan kesehatan juga dilakuan di Laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Tengah. (muhammad oliez)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar