#ARUS,TEGANGAN DAN HAMBATAN
Penghantar yang baik(konduktor) misalnya adalah:emas,tembaga,aluminium. Arus listrik ada 2 yaitu DC(searah) dan AC(bolak balik). Arus listrik dilambangkan I(Ampere),tegangan dilambangkan V(Volt),dan hambatan dilambangkan R(Ohm). seauai dengan hukum ohm maka dirumuskan menjadi:
V=I.R
#DAYA LISTRIK
Jika kumparan diberi arus AC akan menghasilkan induksi bolak balik. Tetapi jika diberi arus DC akan menghasilkan magnet.
P=V.I,,jika V=I.R,,maka:P=I2.R
P=I2.R,,jika I=V/R,,maka: P=V2/R
#RESISTOR
Resistor mempunyai fungsi untuk menghambat arus listri,digunakan sebagai pembagi tegangan.Bahan dasar dari resistor adalah carbon,semikonduktor.
Kode warna:
Hitam =0
Coklat=1
Merah =2
Jingga=3
Kuning=4
Hijau =5
Biru =6
Ungu =7
Abu-abu=8
Putih =9
Emas =5%
Perak =10%
#KONDENSATOR/KAPASITOR
Fungsi kondensator adalah untuk menyimpan arslistrik secara sementara. Kapasitor aalah alat elektrolit yang dapat meleda jika pemasangannya terbalik atau tegangannya terlalu besar.Satuannya adalah Farad(F)
#SIFAT BAHAN
1.Isolator:bahan yang sulit menghantarkan listrik. Contoh:plastik,karet,kayu,arang
2.Semikonduktor:bahan yang dapat menghantarkan arus listrik pada kondisi tertentu. Contoh:silikon,germanium
3.Konduktor:bahan yang mudah menghantarkan arus listrk. Contoh:besi,alumunium,tembaga,emas
4.Superkonduktor:hambatannya hampir nol,tetapi sulit ditemukan di alam
#SEMIKONDUKTOR
*DIODA,,berfungsi sebagai penyearah arusmelindungi rangkaian dari arus balik
*SCR(Silkon Control Rectifier),,fungsinya sama seperti dioda,arusnya mengalir dari anoda ke katoda,,bisa digunakan sebagai saklar elektronik
*LED,,dioda yang dapt memancarkan cahaya,,fungsinya sama seperti dioda
*PHOTODIODA,,digunakan sebagai saklar jarak jauh yang dikedalikan menggunakan LED inframerah
#KONFIGURASI TRANSISTOR
1.Common Base,,
karakteristik:-penguatan kecil
-noninverting
fungsi;-regulator tegangan
-sebagai buffer/penyangga
2.Common colektor,,
karakteristik:-penguetn besar
-noninverting
fungsi:sebagai penguat
3.commom emitor,,
karakteristik:-penguatan besar
-inverting
fungsi:-penguat
-saklar elektronik
#TRANSISTOR DARLINGTON
-Menghubungkan transistor untuk mendapatkan penguatan yang lebih besar.
-isa menggunakan transistor yang sama atau berbeda
-biasanya transistor yang mempunai daya yang lebih besar
#RANGKAIAN SERI PARALEL
-biasanya transistor yang mempunai daya yang lebih besar
#RANGKAIAN SERI PARALEL
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQ0_cg9gqsmtDfIFFfPaaRM5pqJmuC7PyxfxT91WAtia4THMiMRo6LX76V_-2idiyDjQTf-VJEtYeXuGXBMqOHg4390j-geo9pgj76hUTP1owbpLIrgNc3E7SwKX-i3rjvVEVEbrAXcyI/s200/rangkaian+seri+paralel.JPG
#INTEGRATED CIRCUIT(IC)
Rangkaian terpadu:
1.IC yang bisa diprogram
-complex;prosedur
-reduce;mikrokantroker dan HP
2.IC yang tidak dapat diprogram
Imunmuuun
Senin, 03 Januari 2011
Racun Diduga dari Ketela
SELASA,04 JANUARI 2011
JEPARA (SINDO) – Korban tewas akibat keracunan tiwul yang terbuat dari ampas ketela di Desa Jebol Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara terus bertambah.
Jika sebelumnya, korban tercatat empat orang, kemarin,dua orang menyusul tewas. Dua korban terakhir adalah Faridatus Sholihah, 15, dan Saidatul Husniah, 8.Faridatus Sholikhah yang semula dirawat di ruang Cempaka tewas pada Minggu (2/1) pukul 19.35 WIB. Sedangkan Saidatul Khusniah yang dirawat di ruang Anyelir RSUD Kartini meninggal dunia dini hari kemarin pukul 03.00 WIB. Sebelumnya, empat anak dari pasangan Jamhamid,dan Siti Junaiyah, masing-masing Lutfiana, 24, yang merupakan anak pertama, disusul Abdul Amin, 3,Ahmad Kusriyanto, 5, dan Muhammad Hisyam Ali,13 tewas secara beruntun sejak Sabtu (1/1) hingga Minggu (2/1).
Sedang kakek Lutfiana, Fihri, 74 yang juga ikut memakan tiwul tersebut, kondisinya masih kritis dan mendapat perawatan intensif di RSUD Kartini Jepara. Praktis, kini hanya satu dari tujuh anak pasangan Jamhamid dan Siti Sunayah yang tidak ikut meninggal dunia, yakni Imarotul Hikmah,20.Anak kedua Jamhamid ini memang tidak ikut menjadi korban karena tidak ikut mengonsumsi tiwul maut.Imarotul Hikmah sudah berkeluarga dan tinggal dengan suaminya di Desa Tunggul Kecamatan Nalumsari,Kabupaten Jepara. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara menduga racun yang masuk dalam tubuh korban berasal dari ketela yang dibuat untuk bahan tiwul yang kemudian dimakan korban. Kepala DKK Jepara Agus Salim Riyadi mengatakan, dalam buah ketela itu mengandung asam sianida (HCN).Zat yang terkandung dalam ketela ini bersifat racun bagi manusia.
Menurutnya, HCN sebenarnya mudah menguap jika dipanaskan di bawah sinar matahari langsung. Namun jika pemanasannya tidak sempurna dimungkinkan zat ini masih terkandung di dalamnya.“Ini akan membahayakan bagi yang memakannya jika pengeringannya tidak sempurna dan langsung dimasak,”kata Agus kemarin. Racun tak hanya terkandung dalam buah ketela, bahkan daunnya pun jika dimakan hewan ternak tanpa melalui pengeringan,biasanya akan menyebabkan kematian pada ternak tersebut. Lebih lanjut Agus menambahkan, racun yang bisa terjadi pada tiwul itu selain karena berasal dari zat HCN juga dimungkinkan dari proses fermentasi yang tidak sempurna. Dalam proses fermentasi atau peragian perlu memperhatikan kebersihan agar fermentasi bisa berhasil dengan baik.
Meski begitu, Agus tidak menyalahkan masyarakat yang mengolah bahan makanan dari bahan ketela. Sebab hal itu juga sejalan dengan program diversifikasi makanan dari bahan beras ke bahan lainnya. “Kalau cara pengolahannya benar, bahaya dapat dihindarkan,” jelasnya. Sementara itu,Siti Sunayah mengatakan keluarganya sebenarnya sudah sering memakan makanan yang diolah dari bahan ketela. Selama ini,memang tidak ada masalah yang muncul dari makanan selingan tersebut. Namun, Siti Sunayah mengakui bahwa intensitas keluarganya memakan makanan dari olahan ketela tersebut meningkat dalam dua pekan terakhir. Maklum,akhirakhir ini kondisi keuangan keluarganya memang tidak menentu.Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, cabe dan lainnya. Biasanya, kata Sunayah ia mengolah “makan selingan” tersebut dengan cara bahan ketela dicampur dengan serbuk tepung tapioka, lalu diberi garam,gula merah dan diberi sedikit pemanis buatan.
Setelah itu, adonan dituang dalam tungku dan dipanaskan selama kurang lebih satu jam. “Biasanya, dalam kurun waktu tersebut,sudah kering dan siap dimakan.Sebelumnya pernah juga belum benar-benar kering namun saat dimakan juga tidak ada masalah,”jelasnya. Sunayah mengaku hanya memakan sedikit tiwul buatannya. Satu baskom kecil tiwul buatannya memang dihabiskan oleh enam anaknya. Bupati Jepara Hendro Martojo mengatakan kasus keracunan makanan hingga menewaskan korban jiwa baru terjadi di satu keluarga, belum tersebar di banyak warga dalam satu daerah.Menurut Hendro, kejadian tersebut penyakit menular yang mewabah. “Mungkin akibat dari kekeliruan dalam memilih dan mengolah bahan makanan dari ketela,”kata Hendro.
Sementara itu,Kapolres Jepara AKPB Ruslan Ependi didampingi Pjs Kasatreskrim Iptu Rismanto mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil resmi dari autopsi atas jenazah korban yang dilakukan oleh Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng.Pemeriksaan kesehatan juga dilakuan di Laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Tengah. (muhammad oliez)
JEPARA (SINDO) – Korban tewas akibat keracunan tiwul yang terbuat dari ampas ketela di Desa Jebol Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara terus bertambah.
Jika sebelumnya, korban tercatat empat orang, kemarin,dua orang menyusul tewas. Dua korban terakhir adalah Faridatus Sholihah, 15, dan Saidatul Husniah, 8.Faridatus Sholikhah yang semula dirawat di ruang Cempaka tewas pada Minggu (2/1) pukul 19.35 WIB. Sedangkan Saidatul Khusniah yang dirawat di ruang Anyelir RSUD Kartini meninggal dunia dini hari kemarin pukul 03.00 WIB. Sebelumnya, empat anak dari pasangan Jamhamid,dan Siti Junaiyah, masing-masing Lutfiana, 24, yang merupakan anak pertama, disusul Abdul Amin, 3,Ahmad Kusriyanto, 5, dan Muhammad Hisyam Ali,13 tewas secara beruntun sejak Sabtu (1/1) hingga Minggu (2/1).
Sedang kakek Lutfiana, Fihri, 74 yang juga ikut memakan tiwul tersebut, kondisinya masih kritis dan mendapat perawatan intensif di RSUD Kartini Jepara. Praktis, kini hanya satu dari tujuh anak pasangan Jamhamid dan Siti Sunayah yang tidak ikut meninggal dunia, yakni Imarotul Hikmah,20.Anak kedua Jamhamid ini memang tidak ikut menjadi korban karena tidak ikut mengonsumsi tiwul maut.Imarotul Hikmah sudah berkeluarga dan tinggal dengan suaminya di Desa Tunggul Kecamatan Nalumsari,Kabupaten Jepara. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara menduga racun yang masuk dalam tubuh korban berasal dari ketela yang dibuat untuk bahan tiwul yang kemudian dimakan korban. Kepala DKK Jepara Agus Salim Riyadi mengatakan, dalam buah ketela itu mengandung asam sianida (HCN).Zat yang terkandung dalam ketela ini bersifat racun bagi manusia.
Menurutnya, HCN sebenarnya mudah menguap jika dipanaskan di bawah sinar matahari langsung. Namun jika pemanasannya tidak sempurna dimungkinkan zat ini masih terkandung di dalamnya.“Ini akan membahayakan bagi yang memakannya jika pengeringannya tidak sempurna dan langsung dimasak,”kata Agus kemarin. Racun tak hanya terkandung dalam buah ketela, bahkan daunnya pun jika dimakan hewan ternak tanpa melalui pengeringan,biasanya akan menyebabkan kematian pada ternak tersebut. Lebih lanjut Agus menambahkan, racun yang bisa terjadi pada tiwul itu selain karena berasal dari zat HCN juga dimungkinkan dari proses fermentasi yang tidak sempurna. Dalam proses fermentasi atau peragian perlu memperhatikan kebersihan agar fermentasi bisa berhasil dengan baik.
Meski begitu, Agus tidak menyalahkan masyarakat yang mengolah bahan makanan dari bahan ketela. Sebab hal itu juga sejalan dengan program diversifikasi makanan dari bahan beras ke bahan lainnya. “Kalau cara pengolahannya benar, bahaya dapat dihindarkan,” jelasnya. Sementara itu,Siti Sunayah mengatakan keluarganya sebenarnya sudah sering memakan makanan yang diolah dari bahan ketela. Selama ini,memang tidak ada masalah yang muncul dari makanan selingan tersebut. Namun, Siti Sunayah mengakui bahwa intensitas keluarganya memakan makanan dari olahan ketela tersebut meningkat dalam dua pekan terakhir. Maklum,akhirakhir ini kondisi keuangan keluarganya memang tidak menentu.Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, cabe dan lainnya. Biasanya, kata Sunayah ia mengolah “makan selingan” tersebut dengan cara bahan ketela dicampur dengan serbuk tepung tapioka, lalu diberi garam,gula merah dan diberi sedikit pemanis buatan.
Setelah itu, adonan dituang dalam tungku dan dipanaskan selama kurang lebih satu jam. “Biasanya, dalam kurun waktu tersebut,sudah kering dan siap dimakan.Sebelumnya pernah juga belum benar-benar kering namun saat dimakan juga tidak ada masalah,”jelasnya. Sunayah mengaku hanya memakan sedikit tiwul buatannya. Satu baskom kecil tiwul buatannya memang dihabiskan oleh enam anaknya. Bupati Jepara Hendro Martojo mengatakan kasus keracunan makanan hingga menewaskan korban jiwa baru terjadi di satu keluarga, belum tersebar di banyak warga dalam satu daerah.Menurut Hendro, kejadian tersebut penyakit menular yang mewabah. “Mungkin akibat dari kekeliruan dalam memilih dan mengolah bahan makanan dari ketela,”kata Hendro.
Sementara itu,Kapolres Jepara AKPB Ruslan Ependi didampingi Pjs Kasatreskrim Iptu Rismanto mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil resmi dari autopsi atas jenazah korban yang dilakukan oleh Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng.Pemeriksaan kesehatan juga dilakuan di Laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Tengah. (muhammad oliez)
Rabu, 29 Desember 2010
Kerusakan Pantura Picu Laka Naik
KAMIS,30 DESEMBER 2010
| |
| BREBES (SINDO) – Kerusakan jalur pantura barat dari Kabupaten Brebes hingga Pemalang yang hingga sekarang belum mendapat penanganan serius menjadi salah satu pemicu peningkatan kecelakaan lalu lintas. Kasat Lantas Polres Brebes AKP Matrius mengatakan jalan pantura yang rusak meliputi jalan bergelombang dan berlubang telah menjadi salah satu pemicu peningkatan kecelakaan di Brebes.“Kecelakaan yang diakibatkan oleh jalan rusak selama 2010, persentasenya mencapai 10–15% dari jumlah persentase keseluruhan faktor pemicu kecelakaan,” ungkap Matrius kemarin. Ia mengakui akibat hujan terus-menerus terjadi hampir selama 2010 ini telah mengakibatkan jalan di pantura, tepatnya di Brebes rusak.Kerusakannya didominasi oleh jalan berlubang atau menganga. Meski persoalan jalan rusak itu bukan tanggung jawab polisi melainkan tanggung jawab Dinas Bina Marga, sebagai salah satu pihak terkait dalam penyelenggaraan lalu lintas, pihak kepolisian melakukan upaya penanganan berupa pemasangan tanda rambu lalu lintas di sejumlah jalan rusak tersebut. Persoalan jalur nasional yang masih belum dapat penanganan pemerintah ini memang terkesan dibiarkan berlarut-larut.Pantauan SINDO di sepanjang jalur pantura di Brebes hingga mendekati Losari kemarin misalnya.Puluhan lubang yang menganga tampak dengan diameter 30 cm dan kedalaman sekitar 40 cm serta letaknya menyebar, mengakibatkan kendaraan melintas dengan cara zig-zag. Hal itu membahayakan kendaraan di belakangnya. “Pihak kepolisian juga telah membahas persoalan jalan rusak ini kemarin,dan itu kini menjadi salah satu fokus kami,” papar Matrius. Faktor penyebab kecelakaan kendaraan lain,yakni tata cara dan etika para pengguna jalan berlalu lintas yang kurang disiplin. Maka tidak mengherankan jika Polres Brebes mencatat adanya peningkatan angka kecelakaan pada 2010 dibanding tahun sebelumnya. Selama 2010 jumlah kasus kecelakaan yang terjadi di Brebes 141 kasus dengan korban meninggal dunia 63 orang, luka berat 48, dan 105 luka ringan, serta kerugian materi mencapai Rp488.350.000. Pada tahun 2009 jumlah kecelakaan lebih sedikit yakni 121 kasus, dengan korban meninggal dunia 60, luka berat 53, dan luka ringan 112 serta kerugian mencapai Rp210.575.000. “Dari kecelakaan itu, sepeda motor menduduki peringkat pertama yang kerap mengalami kecelakaan 75%, sisanya kecelakaan pada mobil pribadi, dan bus malam,“ bebernya. Kepala Dinas Bina Marga Wilayah Tegal Puryanto mengungkapkan, persoalan jalan rusak memang masih terjadi di jalur pantura. Karena itu,Bina Marga selalu melakukan penambalan lubang jalan setiap hari.“Kami menargetkan pada Maret 2011 seluruh jalan pantura Brebes–Pemalang akan kembali mulus seperti sedia kala,” kata Puryanto. (akrom hazami) |
CERPEN......
KAMIS,30 DESEMBER 2010
Sepotong Roti Penebus dosa
Abu Burdah bin Musa Al-Asy'ari meriwayatkan, bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: "Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti." Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukannya itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan bergelimang di dalam dosa selama tujuh hari sebagaimana perkara yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri. Setelah ia sadar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan solat dan bersujud.
Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang di dalamnya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, karena sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu. Rupanya di samping kedai tersebut hidup seorang pendita yang ada setiap malamnya selalu mengirimkan beberapa buku roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu dengan masing-masingnya mendapat sebuku roti.
Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga dengan lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bahagian, karena disangka sebagai orang miskin. Rupanya salah seorang di antara orang miskin itu ada yang tidak mendapat bahagian dari orang yang membahagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membahagikan roti itu ia berkata: "Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku." Orang yang membagikan roti itu menjawab: "Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari satu buku roti." Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bahagian tadi. Sedangkan keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.
Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sebuku roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sebuku roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu. Kepada anaknya Abu Musa berkata: "Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sebuku roti itu!"
Perpisahan Termanis
KAMIS,30 DESEMBER 2010
Dulu aku datang dengan segudang asa
kini aku harus pamit untuk menjemput impian
Tak ada yang abadi di dunia
Segalanya mesti berubah
Terima kasih sudah menjadi teman baiku
Terima kasih sudah menjadi sobat karibku
Terima kasih sudah menjadi bagian dari jalan hidupku
Maafkan semua kesalahanku
Maafkan segala kekuranganku
Tak ada yang mesti ditangisi
Karena aku tidak akan jauh
Teman, sahabat, tetaplah mengingat setiap kenangan indah yang telah kita lewati
Lupakan kepahitan atas kesalahpahaman kita..
Sampai Jumpa dilain waktu...............
Sungai Musi Semakin Dangkal
Senin, 27 Desember 2010
ARTI CINTA............
SELASA,28 DESEMBER 2010
Cinta adalah sesuatu hal yang sulit kita tebak karena terkadang cinta dapat membuat kita sakit dan dapat membuat kita melupakan segalanya cintapun dan memberikan kegembiraan,dan yang paling utama bagi kita, cinta dapat memberi kesejukan,karena cinta tak dapat kita sentuh tp hanya bisa kita rasakan dalam hati dan jiwa kita,seperti embun yang datang dipagi hari dan hembusan angin yang membuat kita sejuk tp tak dapat kita sentuh.cintailah cinta dengan cinta karna cinta adalah anugrah namun derita-nya tiada akhir,cinta dan waktu adalah hal yang berada diluar kuasa,kita cuma bisa merasakan,cinta dan waktu adalah perkara ghaib,mari kita renungkan,sedangkan raja ghaib adalah Dzat yang maha hidup dan berdiri sendiri, dialah yang menciptakan cinta dan waktu jadi barang siapa bijaksana menggunakan keduanya mudah-mudahan ia akan selamat dari api neraka yang amat menyakitkan dan menghinakan cintailah seseorang seperti angin jangan pernah mencintai seseorang seperti bunga, karna bunga akan gugur di kala musim berganti,tp angin tidak akan berubah, angin akan berhembus setiap saat walau musim berganti.
kita tau karna waktu ada cinta tanpa adanya waktu mungkin tak pernah bertemu dan benci nantinya, cuma waktu yang bisa membantu cinta karena hanya waktulah yang dapat membalas cinta dan hanya waktulah yang bisa menjawab cinta maka jangan pernah sia-siakan cinta dikala ada waktu yang mendukungnya...
kita tau karna waktu ada cinta tanpa adanya waktu mungkin tak pernah bertemu dan benci nantinya, cuma waktu yang bisa membantu cinta karena hanya waktulah yang dapat membalas cinta dan hanya waktulah yang bisa menjawab cinta maka jangan pernah sia-siakan cinta dikala ada waktu yang mendukungnya...
Langganan:
Postingan (Atom)

