PALEMBANG (SINDO) – Sungai Musi,terutama di kawasan muara sungainya,semakin dangkal.Pendangkalan ini disebabkan sedimentasi lumpur yang terbawa air Sungai Musi dan sejumlah anak sungainya.
Supervisor Pemanduan Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Yan Suharyanto mengatakan, saat ini kondisi air Sungai Musi keruh dan bercampur lumpur. Lumpur yang tercampur air ini mengumpul di muara sungai, yakni di Selat Jarang dan Sungai Lais.“Kondisi alur Sungai Musi dalamnya bervariasi. Akan tetapi, yang sangat mudah mengalami pendangkalan sehingga mengganggu jalur penyeberangan letaknya di muara pertemuan antara Sungai MusidanSungaiLaisdiSelatJarang. Jika mendangkal,kapal yang melintasbisaterganggu,” ujar Yandiruang kerjanya kemarin. Kapal berukuran besar yang masuk ke alur Sungai Musi dapat kandas karena pengendapan ini. Selain itu, kapal berukuran besar tidak dapat melintas di bawah Jembatan Ampera, terutama saat pasang tiba. Agar jalur Sungai Musi tetap akan dilintasi kapal besar, kedalaman air harus berada di atas 12 meter. Sementara, agar dapat melintasi Jembatan Ampera, ketinggian antara dasar air dengan menara jembatan harus berada di angka 8 meter. Jika lebih dari ketentuan tersebut, kapal dipastikan tidak akan bisa melintas di bawah Jembatan Ampera karena tersangkut. “Kalau air lagi pasang yang naik mencapai 1,5 meter di atas normal,kapal dengan ketinggian 9 meter kurang 20 cm tidak bisa lagi melintas di bawah Jembatan Ampera. Untuk itulah,kita bekerja sama dengan Administrasi Pelabuhan (Adpel) memantau kapal agar tidak tersangkut di Jembatan Ampera,” tukas dia. Setiap tahun, jelas Yan, agar alur Sungai Musi tetap aman untuk dilalui kapal, dibutuhkan pengerukan. Minimal pengalihan lumpur dilakukan setahun sekali, mengingat sedimentasi sangat tinggi yang tidak hanya disebabkan oleh lumpur melainkan juga sampah. “Kalau pengerukan untuk tahun ini ada dan akan segera berakhir. Namun,ke depan upaya pengerukan jugaharustetapdilakukanagarjalur tersebut aman,”paparnya. Dia menambahkan, saat ini kondisi ketinggian arus Sungai Musi masih normal dan tetap bisa dilintasi kapal yang tingginya lebih dari 9 meter. Namun, jika hujan datang yang menyebabkan air pasang kapal tersebut tidak dapat melintas. “Saat ini umumnya kapal yang melintas di bawah Jembatan Ampera menaranya hampir di bawah 9 meter. Jadi, sampai saat ini masih aman. Sementara, adanya batu bara yang tersangkut di tiang Jembatan Ampera beberapa waktu lalu karena kondisi air sedang pasang,” jelas dia. Bahkan,jika kondisi sungai lagi surut,ketinggian antara puncak air dengan jembatan bisa mencapai 12 meter. Akan tetapi, kondisi ini sangat jarang terjadi dan jika terjadi hanya pada musim kemarau. “Kita tidak dapat memprediksi kapan air naik dan turun mengingat cuaca yang tidak menentu. Kita dapat melihatnya ketika sedang hujan atau kemarau,”tukas dia. Kasi Syahbandar Adpel Palembang Umar Juni menambahkan, untuk ketinggian Sungai Musi,saat ini sudah mulai naik berkisar 0,5- 1,5 meter. Kondisi ini akan lebih tinggi lagi jika turun hujan.Untuk itulah, kapal dengan ketinggian lebih dari 11 meter tidak bisa lagi melintas di bawah Jembatan Ampera. Jika tidak menara kapal akan tersangkut jembatan. “Kalau ketinggian Sungai Musi sangat dipengaruhi hujan. Jika hujan turun bisa naik 1,5 meter dan kapal yang melintas dengan menara di atas 11 meter tidak bisa lagi,” tandasnya. (yayan darwansah)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar